Di tengah padat dan bisingnya deru mesin konstruksi di Jakarta Utara, sebuah ruang publik di Pasar Hexagon dan area Kampung Susun Akuarium berdenyut dengan energi yang berbeda. Di sinilah sekitar 400-an perempuan dari berbagai pelosok kota Indonesia yang tergabung dalam Jejaring Rakyat Miskin Indoneisa (JERAMI). Yakni Bekasi, Surabaya, Semarang-Demak, Lampung, Makassar, Kendari hingga Palu, berkumpul untuk satu tujuan yang sama. Yaitu menghadiri dan merayakan bersama Hari Koperasi yang jatuh pada tanggal 12 Juli, sekaligus Pertemuan Nasional Perempuan Miskin Kota Indonesia. Acaranya diselenggarakan selama 2 hari berturut-turut; 11–12 Juli 2026, di lokasi yang sama. Mereka bukan sekadar peserta acara. Mereka hadir sebagai perempuan penggerak perubahan sosial yang datang untuk merayakan dan meneguhkan kedaulatan mereka.
In the bustling, noisy heart of North Jakarta, amidst the roar of construction, a different kind of energy filled the air at Hexagon Market and Kampung Susun Akuarium. Here, around 400 women from various Indonesian cities—from Jakarta, Bekasi, Surabaya, Semarang-Demak, Lampung, Makassar, Kendari, to Palu—all part of the Indonesian Urban Poor Network (JERAMI), came together for a special occasion. They were there to celebrate Cooperative Day (July 12) and the National Meeting of Indonesian Urban Poor Women, held over two days (July 11–12, 2026) at the same spot. These weren’t just attendees; they were women driving social change, celebrating and standing firm in their power.

Acara yang diprakarsai oleh Jejaring Rakyat Miskin Indonesia (JERAMI), Koperasi Jasa Jaringan Perumahan Rakyat (JAPRA), Jaringan Rakyat Miskin Kota (JRMK) Jakarta, dan Urban Poor Consortium (UPC) ini mengusung tema “Meneguhkan Kedaulatan Perempuan untuk Keadilan Sosial”. Tema ini dipilih karena dalam peta pembangunan kota Indonesia, perempuan miskin kota sering kali diposisikan sebagai objek kemiskinan, penerima belas kasihan, atau bahkan penghambat estetika urban. Namun, di mata JERAMI, mereka adalah subjek yang paling gigih bertahan hidup di garis depan krisis perkotaan.
The event, organized by JERAMI, the People’s Housing Network Service Cooperative (JAPRA), the Jakarta Urban Poor Network (JRMK), and the Urban Poor Consortium (UPC), had a powerful theme: “Affirming Women’s Sovereignty for Social Justice.” This theme was chosen because, in Indonesia’s urban development, poor women are often seen as victims, charity cases, or even as spoiling the city’s look. But for JERAMI, these women are incredibly resilient, fighting to survive on the front lines of urban challenges.


Hari Koperasi dan Pertemuan Nasional Perempuan Miskin Kota Indonesia juga menjadi momentum bersama untuk mempertemukan perempuan miskin kota dari berbagai daerah dalam satu ruang belajar, berbagi, dan mengonsolidasikan gerakan. Kegiatan ini menegaskan koperasi sebagai alat perjuangan kolektif sekaligus memperkuat kedaulatan perempuan menuju keadilan sosial.
Cooperative Day and the National Meeting were also a chance to bring urban poor women from different regions together. It was a space to learn, share, and strengthen their movement. The event highlighted cooperatives as a way for them to fight together and boost women’s power for social justice.
Koperasi Perumahan: Solusi Konkret Merespon Ketimpangan
Housing Cooperatives: A Real Solution to Inequality
Rumah atau tempat tinggal layak adalah hak dasar. Banyak warga miskin kota, bahkan warga kelas menengah, belum mampu mendapatkannya, akibat timpangnya ketersediaan lahan atau rumah yang terjangkau dengan kemampuan rata-rata warga.
Bukan sekadar cerita dramatis tentang dinamika perjuangan mereka, para perempuan yang hadir dalam acara Hari Koperasi dan Pertemuan Perempuan Miskin Kota Indonesia juga menunjukkan langkah-langkah konkret yang sudah dan sedang mereka lakukan. Mereka tidak menunggu jatah apartemen subsidi dari pemerintah yang sering kali terlalu mahal dan jauh dari sumber penghidupan mereka. Mereka membangun sendiri solusinya: koperasi.
Having a decent home is a basic right. Yet, many urban poor, and even middle-class citizens, struggle to find affordable housing because there simply isn’t enough land or homes they can afford.
Beyond just sharing their struggles, the women at the event also showed the practical steps they’ve taken. They’re not waiting for expensive, far-off government-subsidized apartments. Instead, they’re creating their own solutions: cooperatives.
Dharma Diani, selaku ketua Koperasi Jasa Jaringan Perumahan Rakyat (JAPRA), menceritakan kembali proses lahirnya JAPRA sebagai koperasi perumahan di tingkat nasional bagi Jejaring Rakyat Miskin Indonesia (JERAMI). JAPRA dibentuk sebagai koperasi tingkat nasional yang tidak hanya berfungsi sebagai wadah simpan pinjam, tetapi juga pengelola dana santunan kematian, mengatur program dan mengelola dana pembangunan dan perbaikan rumah dengan prinsip membangun hunian untuk dan atas nama anggota koperasi, bukan untuk mengejar keuntungan kapitalis.
Dharma Diani, head of JAPRA, shared how JAPRA started as a national housing cooperative for JERAMI. JAPRA isn’t just for saving and lending; it also manages death benefits, programs, and funds for building and improving homes. Their main idea is to build homes for and by their members, not to make a profit like big businesses.
Hari Koperasi kali ini, bukan sekadar perayaan simbolik. Ketika sekitar 400-an peserta dari berbagai wilayah duduk bersama di area panggung Hexagon pada Sabtu pagi, 11 Juli 2026, suara Mars JejaringRakyat Miskin Indonesia (JERAMI) dan Internasionale yang dinyanyikan bersama, menjadi pembuka yang tegas, bahwa pertemuan ini adalah milik mereka, bukan milik siapa pun.
This year’sCooperative Day was more than just a symbolic celebration. When the 400 participants gathered at the Hexagon stage on Saturday morning, July 11, 2026, the joint singing of the JERAMI Anthem and “The Internationale” kicked things off, making it clear that this meeting belonged to them, and no one else.


Bagaimana acara ini berlangsung? How was the event going?
Acara berlangsung selama dua hari dengan rangkaian yang padat, partisipatif, dan berbasis pengalaman warga. Hari pertama dibuka dengan sirene sebagai simbol darurat terhadap kondisi hidup yang semakin sulit dihadapi masyarakat miskin kota.
The two-day event was packed with activities, very interactive, and based on the community’s own experiences. Day one started with a siren, a symbol of the urgent struggles faced by urban poor communities.

Dilanjutkan dengan diskusi publik bertajuk “Koperasi sebagai Gerakan Perlawanan”. Wardah Hafidz, pendiri Urban Poor Consortium (UPC), menyampaikan narasi awal tentang koperasi sebagai alat perjuangan kolektif untuk membangun kemandirian dan keadilan sosial. Perwakilan kota seperti Dharma Diani (JAPRA), Apriliani (Surabaya), Elniwati (Palu), Eny Rochayati (Jakarta), Norce (Kendari), Popy Yoseva Indra Putri (Lampung), Rahmatia Daeng Nurung (Palu), dan Umi (Semarang) juga berbagi cerita tentang gerakan mereka dalam berkoperasi dan berdinamika dengan warga. Sesi ini dipandu oleh Evi Mariani dari Project Multatuli.
Then came a public discussion: “Cooperatives as a Movement of Resistance.” Wardah Hafidz, founder of UPC, spoke about cooperatives as a collective tool for building independence and social justice. Representatives like Dharma Diani (JAPRA), Apriliani (Surabaya), Elniwati (Palu), Eny Rochayati (Jakarta), Norce (Kendari), Popy Yoseva Indra Putri (Lampung), Rahmatia Daeng Nurung (Palu), and Umi (Semarang) also shared their cooperative journeys. Evi Mariani from Project Multatuli moderated this session.

Selanjutnya peserta mengikuti empat panel tematik yang sebelumnya sudah mereka pilih untuk mendalami kedaulatan perempuan:
Afterward, participants joined four themed panels they had chosen to explore women’s power:
- Kedaulatan Ekonomi | Economic power (Emmy Astuti, ASPPUK)
- Kedaulatan Politik | Political Power (Bivitri Susanti, STH Indonesia)
- Kedaulatan Sosial | Social Power (Evi Mariani, Project Multatuli)
- Kedaulatan Budaya | Cultural Power (Prof. Melani Budianta, Komisi Kebudayaan AIPI)




Selama acara berlangsung, ada bazaar produk lokal dan usaha warga kampung kota yang bisa dicicipi dan dibeli. Area khusus anak juga disediakan berkolaborasi dengan Catara, untuk memastikan ruang yang aman dan nyaman selama kegiatan berlangsung.
Throughout the event, there was a bazaar featuring local products and goods from urban village businesses. A special kids’ area, set up with Catara, made sure children had a safe and fun space.






Malam harinya, seluruh kota mempersembahkan pertunjukan untuk Malam Solidaritas. In the evening, all the cities put on performances for Solidarity Night.

Hari kedua dibuka dengan diskusi inspirasi yang menghadirkan perempuan-perempuan hebat seperti Ajeng Astuti (Jala PRT), Amelia Puhili (PUSAKA), Jumisih (Dewan Buruh Nasional KPBI), Lèa Oswald (urbamonde), Mrs. Ganga (Sri Lanka Women’s Development Services Cooperative Society), May (Konsorsium Pembaruan Agraria), dan dipandu oleh Ayu Rikza (FNKSDA Jakarta).
Day two began with an inspiring discussion featuring amazing women like Ajeng Astuti (Jala PRT), Amelia Puhili (PUSAKA), Jumisih (National Labor Council KPBI), Lèa Oswald (urbamonde), Mrs. Ganga (Sri Lanka Women’s Development Services Cooperative Society), May (Consortium for Agrarian Reform), moderated by Ayu Rikza (FNKSDA Jakarta).


Dilanjutkan dengan 9 workshop produk (sabun organik, deterjen cair, tempe daun, kertas daur ulang, batik cap cukil, minuman tepache, kombucha, lilin jelantah, dan scrub ampas kopi) yang bertujuan agar warga mulai menyadari bahwa mereka mampu membuat kebutuhan mereka sendiri secara mandiri. Kegiatan diakhiri dengan agenda perumusan dan evaluasi.
This was followed by nine product workshops (organic soap, liquid detergent, tempeh leaves, recycled paper, carved batik stamps, tepache drink, kombucha, used candle wax, and coffee grounds scrub). The goal was to help residents realize they could make their own essential goods. The event wrapped up with a session for planning and evaluation.






Melalui serangkaian agenda ini, kita semua tahu dan semakin nyata bahwa krisis hunian dan kemiskinan kota tidak akan terselesaikan dengan solusi yang dipaksakan dari atas. Solusinya ada di tangan mereka yang paling merasakan dampaknya. Ketika perempuan miskin kota di berbagai pelosok Indonesia menyatukan suara dan tenaga mereka melalui koperasi, mereka tidak hanya sedang membangun rumah. Mereka sedang membangun keadilan sosial, menghimpun dan menyusun kekuatan demi kekuatan. Hari Koperasi ini adalah momentum ketika mereka berdiri tegak, bertemu satu sama lain, dan melanjutkan perjalanan bersama.
Throught this event, we all know and very clear to see that urban housing crises and poverty won’t be solved by solutions forced from the top down. The real answers are with those who feel the impact most. When urban poor women across Indonesia come together through cooperatives, they’re not just building homes. They’re building social justice, gathering strength, and empowering each other. This Cooperative Day was a moment for them to stand tall, connect, and continue their journey together.