Minggu, 15 Februari 2026 ratusan anggota kelompok per-10 berkumpul, membawa kotak celengan mereka masing-masing. Hari ini bukan sekadar agenda tahunan. Ia adalah momentum ketika RAKYAT MISKIN KOTA menunjukkan kepada publik bagaimana mereka MENGELOLA UANGNYA SENDIRI secara kolektif, disiplin, dan transparan.
Festival diawali dengan potluck makan bersama. Anggota dari berbagai kampung duduk bersama, berbagi makanan yang dibawa masing-masing kelompok/ kampung. Karena sebelum uang dibongkar, yang lebih dulu dirayakan adalah kebersamaan. Di sinilah solidaritas tumbuh dan dirawat; setiap minggu, setiap pertemuan. Acara dibuka. Dilanjutkan sambutan oleh Dharma Diani selaku Ketua Penyelenggara dari Koperasi Induk JAPRA dan Eny Rochayati dari JRMK. Mereka menegaskan bahwa BERKOPERASI adalah MEDIA untuk MEMPERKUAT KEAMANAN BERSAMA. Dan bongkar celengan bukan sekadar membuka kotak uang/ bagi tabungan. Ini adalah bukti bahwa rakyat miskin kota mampu membangun SISTEM KEUANGAN ALTERNATIF di tengah maraknya pinjaman online dan rentenir.
Uang yang dihimpun bukan sisa. Ia adalah komitmen.
Pada momen ini, laporan pengelolaan dana turut dibacakan secara terbuka. Per 15 Februari 2026, dari 53 kelompok yang terorganisir, 50 kelompok telah menyerahkan laporan dan dana pengelolaan. Total anggota tercatat sebanyak 668 orang, dengan 512 perempuan (76,6%) dan 156 laki-laki (23,4%). Angka ini menunjukkan bahwa perempuan menjadi penggerak utama dalam pengelolaan ekonomi kolektif di tingkat kampung. Lima puluh kelompok tersebut tersebar di 13 koperasi primer yang menjadi bagian dari gerakan kolektif ini. Dari Koperasi Marlina Maju Bersama, Aquarium Bangkit Mandiri, Anak Kali Ciliwung, Kunir Pinangsia Sejahtera, Gang Sumur Sejahtera, Kembang Lestari Mandiri, Gudang Bangku Sejahtera, Tembok Bolong Sejahtera, Budi Mulia Maju Bersama, Persaudaraan Kampung Bayam, Rawa Bebek, dan PKL Kopeka. Dari kampung-kampung ini lahir bendahara, sekretaris, pembawa kotak, pemegang kunci, dan pemimpin-pemimpin baru lainnya.
Festival ini juga menghadirkan testimoni anggota yang merasakan langsung manfaat dari berkoperasi. Ada perwakilan penerima manfaat kelompok, yang terhindar dari bang plecit dan lebih memilih meminjam ke kelompok untuk urusan mendesak. Ada perwakilan dari Kampung Muka yang menyampaikan bagaimana layanan koperasi mampu mewujudkan perbaikan hunian. Ada pula penerima santunan kematian yang bersaksi bahwa di tengah duka, kelompok hadir memberikan dukungan yang nyata.
Festival Bongkar Celengan bukan hanya peristiwa seremonial. Ia adalah pernyataan bahwa rakyat miskin kota adalah subjek. Mereka mampu mengelola uangnya sendiri. Mampu membuat keputusan bersama.
Mampu membangun kemandirian ekonomi dari bawah.
KEKUATAN JUMLAH YANG TERORGANISIR
Dana yang terhimpun selama 1 tahun adalah Rp 786.104.869,-. Jumlah tersebut berasal dari uang yang disisihkan setiap minggu melalui kelompok per 10 dalam koperasi.
Setiap minggu anggota membayarkan simpanan wajib sebesar Rp5.000,- termasuk untuk iuran santunan kematian sebesar Rp500,- dan tabungan wajib minimal Rp5.000,- (yang hanya bisa diambil sekali dalam satu tahun) ke dalam celengan.
SEKILAS TENTANG CELENGAN JRMK
Penggunaan kotak dipilih daripada bank untuk menghindari biaya admin, mempermudah proses pengguliran dana di dalam kelompok dan untuk menerapkan prinsip transparansi. Karena uang akan dihitung bersama setiap memulai dan mengakhiri pertemuan mingguan.
Sementara itu, jumlah uang yang masuk dan keluar akan dicatat oleh bendahara kelompok secara manual. Pencatatan manual digunakan karena metode tersebut dapat dilakukan dan dimengerti oleh hampir semua orang. Hal ini akan mempermudah proses perekrutan bendahara di dalam kelompok, mempermudah proses pergantian petugas bendahara kelompok dan mempermudah anggota melakukan proses pengawasan karena tidak ada gap di masing-masing anggota dalam skill pencatatan keuangan manual. Pencatatan secara manual akan terus diterapkan, meskipun saat ini telah dalam proses pengembangan catatan digital untuk keamanan data anggota kelompok. Di dalam kelompok, anggota akan secara rutin mengisi daftar kehadiran setiap minggu di buku sekretaris. Daftar hadir penting untuk mengukur keaktifan riil anggota di dalam kelompok dalam proses pengorganisasian. Selain bertugas mencatat daftar hadir, sekretaris juga bertugas mencatat hasil pertemuan mingguan seperti hasil kesepakatan bersama di dalam kelompok, pembahasan tentang kondisi masing-masing anggota di dalam kelompok, hingga situasi sosial yang menjadi topik perbincangan di dalam kelompok. Karena melalui kelompok per-10, bukan hanya uang yang dihimpun, tetapi juga keluh kesah, ide dan semangat perjuangan kolektif yang mencoba dibangun. Hasil pembongkaran celengan ini nantinya akan dibagikan kepada anggota yang telah menabung di kelompok masing-masing untuk bekal mudik ke kampung halaman, atau persiapan keuangan menjelang bulan puasa. Pendek kata, ini adalah cara rakyat miskin kota menciptakan THR- nya sendiri. Agenda ini bukan sekadar membuka kotak uang, melainkan membuka cerita tentang bagaimana rakyat miskin kota membangun sistem keuangan alternatif berbasis kepercayaan, kesepakatan, dan solidaritas. Juga merayakan lahirnya banyak pemimpin di tiap kampung, para akuntan, para sekretaris dan kesadaran kolektif melalui kelompok per-10 oleh rakyat miskin kota.
Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk menunjukkan kepada publik bahwa RAKYAT MISKIN KOTA ADALAH SUBJEK yang mampu mengelola uang, mengambil keputusan kolektif, dan membangun kemandirian ekonomi dari bawah.
