Krisis perumahan dan ketimpangan akses terhadap tanah di kota-kota besar membutuhkan solusi yang adil, inklusif, dan berkelanjutan. Koperasi perumahan hadir sebagai jawaban dengan kepemilikan kolektif yang memberi kuasa bagi komunitas untuk mengelola ruang hidupnya. Sejalan dengan penetapan tahun 2025 sebagai International Year of Cooperatives oleh PBB, Festival Koperasi Perumahan Indonesia pertama ini menjadi ruang belajar, berbagi praktik, sekaligus memperkuat gerakan menuju sistem perumahan yang adil dan manusiawi.
Festival ini terwujud berkat kolaborasi lebih dari 30 organisasi di Indonesia, terdiri dari 17 organisasi pendukung, 10 kelompok berbasis komunitas, dan 24 koperasi kampung, dengan rangkaian kegiatan yang berlangsung di Jakarta, Semarang, Surabaya, Bali, dan Bandung.

Sejak Mei hingga Agustus, festival hadir dalam beragam program: Klub Baca, Lokakarya, Diskusi Publik, Pemutaran Film, Konsultasi Publik, Climate Picnic, Tur Kampung, Work-in-Progress Bantuan Arsitektur, hingga Festival Panen Kebun Kota. Puncak acara digelar pada 16 Agustus dengan tema “Rumah Bukan Impian: Membangun Hunian Melalui Koperasi Perumahan”, bertempat di Kampung Susun Akuarium—salah satu inisiatif koperasi perumahan yang sudah berjalan di Indonesia.
Festival ini berhasil melibatkan sekitar 1.500 orang dalam upaya memperjuangkan visi rumah layak dan terjangkau, menjadi tonggak penting bagi lahirnya Festival Koperasi Perumahan pertama di Indonesia.
Dalam acara puncak, Rumah Bukan Impian, berbagai kegiatan digelar: diskusi publik, lokakarya, bazar, deklarasi koperasi perumahan, hingga pameran. Agenda ini tidak hanya menampilkan praktik-praktik yang sudah ada, tetapi juga menjadi wadah belajar bersama, memperkuat solidaritas, dan membangun kolaborasi menuju kota yang inklusif, terjangkau, dan berkeadilan.