Pertemuan Akhir Tahun 2015 – JERAMI

Share:

Dialog Gerakan Transformatif .

Pada sessi selanjutnya, dilakukan diskusi lagi mengenai gerakan transformative. Diskusi diawali dengan paparan soal ketimpangan ekonomi yang semakin parah, baik secara global maupun secara nasional. Ketimpangan ini adalah jurang pemisah antara rakyat miskin dengan kaya. Di tahun 2015 ini, menurut laporan OXFAM,  48%   kekayaan dunia dikuasi oleh 1 % orang. Kondisi ini diperkirakan akan semakin parah, yakni di  tahun 2016 nanti, orang-orang tersebut akan menguasai 50% kekayaan dunia.

IMG_1242Di Indonesia, kondisi ketimpangan yang parah tersebut juga terjadi. Bahkan Indonesia menduduki posisi 3 ketimpangan yang parah di dunia, di bawah Rusia dan Thailand. Hal ini diperparah dengan korupsi yang masih tinggi. indeks korupsi di Indonesia masih  menduduki peringkat ke  107 dari 177  negara. Selain itu, kondisi kemiskinan di Indonesia juga masih tinggi , yakni sekitar 11. 22 % atau hampir 30 juta penduduk Indonesia.

Paparan data di atas menjadi pemantik diskusi tentang gerakan transformatif yang difasilitasi oleh Ari  Ujianto (Koordinator LOCOA). Dengan mengacu pada buku Mansoer Fakih tentang Masyarakat Sipil di Indonesia, gerakan sosial  dapat di golongkan ke dalam tiga aliran : Konformis, Reformis dan Transformatif

Terkait ketiganya,  Para peserta mengakui bahwa  kegiatan yang dilakukan selama ini  memang berfokus pada upaya penyadaran kritis   kepada   para anggota.  Menyambung  hal tersebut,  Wardah Hafidz  yang  sore itu turut hadir, menegaskan bahwa apa yang kita  lakukan selama ini adalah bentuk gerakan transformatif. Merujuk pada pemetaan  tipologi gerakan sosial yang dilakukan oleh  Mansur Fakih tersebut, aliran transformatif  merupakan  capaian tertinggi dari seluruh bentuk gerakan yang  ada. Fokus  gerakan ini adalah pada  penyadaran krtis tentang struktur yang menindas, dengan itu  rakyat  diharapkan  dapat mengambil tindakan secara terorganisasi dan mandiri untuk terus perubahan sosial secara mendasar.

Penyusunan Program 2016

Hari ke empat,  setelah memperdalam kembali  wawasan tentang  gerakan tansformatif, para peserta mulai membentuk kelompok  berdasarkan kota. Indry, fasilitator pertemuan tersebut,  menjelaskan bahwa   kali ini   para peserta diminta untuk menyusun rancangan program yang akan dijalankan di masing-masing kota untuk tahun 2016. Perencanaan harus betul- betul dapat berjalan, dan dihubungkan dengan agenda yang telah berjalan. Masing–masing  kota diminta untuk terlebih dahulu  mendiskusikan  masukan apa saja yang telah didapatkan dari  semua   sesi diskusi wawasan yang telah dilalui. Masukan tersbut harus dipertimbangkan dalam menyusun prgoram. Seperti biasa,  setelah penyusunan rancangan, proses dialog kembali dilakukan untuk mematangkan perencanaan.IMG_1311

Acara Penutupan

Sesi malam hari ke-empat dilakukan penutupan yang diisi dengan pementasan seni. Setiap kota diminta untuk menampilkan pertunjukan.  Menari, bernyanyi hingga   baca puisi  mewarnai kegiatan malam hari itu.  Tidak terkecuali seluruh aktivis UPC dan  fasilitator kegiatan dari SCN dan KPI, juga diminta tampil. Kim, pakar kesehatan alami menjadi penampil istimewa yang memperkenalkan lagu khas Korea.

Pasar Rakyat Jerami

Selesai PAT, kemudian pada 15 Desember 2015 para peserta PAT menggelar pasar rakyat di   sekretariat JALA PRT di Jalan Kalibata Utara, Jakarta Selatan. Masing-masing   perwakilan mulai  menggelar pelbagai macam dagangan. Porong  memajang  batu akik lokal dan obat-obatan tradisional  (Daun Tin), Kendari menjajakan madu hutan dan kacang mede,  Makassar menjual minyak gosok khas makassar, Jakarta menjajakan lembar demi lembar  jacket  dan   tas  berlogokan JERAMI– UPC,  Tulang Bawang dan Lampung membawa   udang ebi dan kerupuk khas  Lampung.

Inilah gambaran pasar rakyat, pasar yang diorganisir sendiri oleh rakyat, dengan harga ditentukan  bukan pada  hitungan keuntungan pedagang semata, tetapi seberapa besar akan menyumbang ke gerakan rakyat di kota masing-masing. Jon mul dari Porong misalnya,   untuk sebungkus  teh daun tin yang laku,  akan disumbangkan ke JERAMI sebesar 50 % dan ke   KLM 25 %,  dan  sisanya yang akan digunakan untuk hidup dirinya.

Ke depan,  pasar rakyat ini  akan tetap berjalan. Meski berjauhan  akan tetapi dengan mendayagunakan media komunikasi dan Informasi, UPC akan  membuat jaringan pemasaran dan mengatur  distribusi barang  agar dapat sampai kepada pemesan. Target konsumen pasar rakyat sendiri jelas, yaitu jaringan individu  maupun lembaga. Inti kekuatan pasar yang  dirintis terletak pada kemampuan menggunakan media  informasi.

Rangkaian Pertemuan Akhir tahun  telah membangun sebuah harapan besar. Harapan akan organisasi rakyat yang terorganisir dan kritis. Tentunya juga harapan tentang  gerakan sosial yang  bertumpu  pada  kekuatan anggota untuk mencapai kemandirian.  Untuk pertemuan  Tengah Tahun (PTT) 2016 mendatang,  seluruh utusan menyepakati akan di laksanakan di  Tulang Bawang, Lampung. (Frd)

Halaman: 1 2

Jika Anda menyukai artikel di situs ini, silahkan input Email Anda pada Form yang disediakan, lalu Klik Untuk Berlangganan. Dengan begitu, Anda akan berlangganan setiap update artikel terbaru UPC gratis via FeedBurner ke Email Anda.

Artikel Lainnya