Rumah Pengusaha Starbike

Share:

Pada pertengahan 2015 kampung sebelah terkena penggusuran. Namun, kampung bernama Krapu tersebut hanya tergusur sebagian, karena Komnas HAM turun tangan. Krapu terletak di persimpangan yang ramai antara Jalan Tongkol, Lodan, dan Pakin. Kampung Krapu persis terletak di sepanjang tepi Anak Kali Ciliwung sebelum sungai kotor berbau busuk itu bermuara membawa polutan kota ke laut teluk Jakarta. Penggusuran itu demi kebutuhan jalur inspeksi bagi otoritas sungai. Untuk menjaga fungsi hidrologis, Anak Kali harus memiliki jalan akses selebar lima meter. Untuk itu Krapu merelakan sebagian bangunan dan ruang rumah sehingga tinggal menjadi sejarah dan kenangan, semua demi tercipta sebuah konsensus baru, sebentuk kesepakatan sebagai syarat untuk tinggal di ruang kosmopolitan.

20151212_583Mengepras, menyediakan jalan akses dan inspeksi sungai selebar lima meter

Akibat pengadaan jalan akses selebar lima meter itu pula sebagian keluarga di Krapu dan Tongkol kehilangan rumah sehingga harus pindah ke Marunda, dimana rusunawa berlokasi, sekitar sepuluh kilometer ke arah Timur dari pelabuhan Tanjung Priok. Sebagian lain yang lebih beruntung, masih bisa tinggal dengan memperbaiki fasad atau muka rumah. Mereka yang masih berkesempatan tinggal secara sukarela merobohkan sebagian rumah. Dikepras, seperti warga kampung-kampung Strenkali di Surabaya menyebutnya. Warga yang tergabung dalam Paguyuban Warga Strenkali (PWS) sepanjang tahun 2005-2010 mengepras rumah dan menata ulang permukimannya sendiri. Selain itu mereka juga aktif merawat lingkungan sungai dengan mengolah sampah setiap tahun serta mengadakan prosesi larung sungai sebagai tanda syukur kepada alam dan Sang Pencipta. Sampai sekarang kampung-kampung di dalam jaringan PWS masih dibolehkan tinggal berdekatan dengan sungai.

Kampung Tongkol dan Krapu berada pada satu trayektori dengan kampung-kampung Strenkali di Surabaya. Kampung-kampung itu menata diri dalam rangka menjadi entitas yang baik dalam suatu kumpulan yang disebut kota. Terlibat dalam hal pendampingan pengorganisasian adalah UPC yang memberikan akses pada pinjaman kolektif bergulir sehingga kelompok-kelompok warga bisa merencana sendiri proses pengeprasan dan upgradingini. Kondisi keuangan anggota warga seperti Wak Dadang terkadang membuatcommunity organiser Gugun merenung. “Kalau penghasilan cuma dari jualan kopi seduh, apa nanti pinjaman bisa kembali?” Sulit untuk mencarikan jawaban awal buat Gugun. Tetapi inisiatif arus bawah ini mesti didukung, karena semua berhak mendapat kesempatan pertama. Maka Kamil, Bram, Ariel dan beberapa arsitek muda lain meringankan langkah untuk menemui Gugun dkk. untuk merancang rumah contoh dan menata-ulang kawasan.

Sebetulnya, para arsitek cukup menjalankan satu kepatutan saja, yakni mendesain dengan bahan-bahan yang terjangkau, mudah didapat, dan dapat dikerjakan oleh banyak anggota warga. Sehingga, investasi waktu dan kerja kolektif memiliki arti yang mendalam. Ini penting bagi sendi-sendi hidup berkampung di tengah kota masa kini yang sumpek oleh segala macam kompetisi Darwinian. Dari proses itu kelak dihasilkan arsitektur yang kuat, indah, dan fungsional seperti disyaratkan oleh Vitruvius di masa Romawi. Di zaman kita abad-21 belum lama para pemimpin dunia meratifikasi Sustainable Development Goals dan yang terakhir adalah kesepakatan bersama merespon perubahan iklim pada COP21 di Paris. Sebagai bentuk kontribusi, arsitek harus benar-benar mengusahakan bangunan yang akan hidup dalam rentang waktu yang panjang. Bukan rahasia, perihal rentang masa pakai lebih menjadi tantangan sosial dan politis, ketimbang teknis.

10 Ciri Rumah Contoh

Walaupun demikian tangkas dan cekatan warga kampung-kampung tersebut dalam menata lingkungan tinggal di kota, sukar sekali bagi kaum ini mendapat kepastian, apalagi perlindungan hukum. Misalnya, sebagaimana yang terjadi dengan Kampung Pulo di Jakarta Timur yang digusur pada Agustus lalu, selang sebulan kemudian Kampung Kolase di jalan Siliwangi, Bandung pun digusur demi sebuah amfiteater. Belum habis satu bulan di 2016 sudah ada dua penggusuran di Jakarta, di Bukit Duri dan terhadap perumahan Zeni Mampang Prapatan. Sesaat setelah bangsa memperingati eksistensinya yang ke-70 tahun, penguasa masih tanpa sungkan menggusur atas nama keindahan, ketertiban, dan pembangunan. Menjaring penduduk kampung ke rusunawa yang dikelola pemerintah akan membunuh lokalitas, keunikan, relasi sosial, kolektivitas, dan kemandirian bermukim à la  kampung.

Saat wakil-wakil rakyat di Senayan masih gemar bertengkar dan korupsi. Warga kampung tidak menunggu sampai sistem pemerintahan yang ideal hadir untuk mengantarkan kemakmuran sampai ke muka pintu sebagaimana dicita-citakan para pendiri bangsa. Warga memperbaiki sendiri kampung dan lingkungan, mengklaim hak mereka untuk tinggal di kota. Terkadang ada yang menemani mereka; seniman, dokter, insinyur, antropolog, arsitek, ataupun profesi lain, tapi lebih sering sendiri. Sungguh, sebuah inspirasi bagi kaum kelas menengah berpendidikan yang berpikir dan ingin mengubah keadaan.///

Penulis :

Andrea Fitrianto (ASF Indonesia)

Halaman: 1 2

Jika Anda menyukai artikel di situs ini, silahkan input Email Anda pada Form yang disediakan, lalu Klik Untuk Berlangganan. Dengan begitu, Anda akan berlangganan setiap update artikel terbaru UPC gratis via FeedBurner ke Email Anda.

Artikel Lainnya