Tentang Bank Dunia dan Kemiskinan

Share:

KEADILAN
Tantangan kedua untuk Bank Dunia ialah memasukkan keadilan sosial sebagai sasaran dalam pendakatannya pada pembangunan berkelanjutan, sekalipun hal itu bahwa peningkatan keadilan tersebut hanya menjadi nilai instrumental dalam mendorong stabilitas dan pengurangan kemiskinan. Draf laporan World Development Report menyebutkan bahwa “analisa lintas negara menunjukkan bahwa masyarakat yang timpang cenderung tidak stabil, baik secara politik dan sosial, dan hal ini tercermin dari rendahnya tingkat investasi dan pertumbuhan”.

Pada banyak negara Selatan, kesenjangan antara kaum kaya dan kaum miskin lebih luas daripada yang terdapat negara-negara Utara. Perbandingan pengalaman di Amerika Latin dan Asia Selatan menunjukkan bahwa negara yang distribusi pendapatannya tidak terlalu timpang ternyata lebih sukses dalam memerangi kemiskinan. Sementara Brasil dan Meksiko menciptakan dasar-dasar industri yang signifikan, namun lebih dari setengah penduduknya tetap terpinggirkan. Berbeda sekali dengan Korea Selatan yang mendorong reformasi agraria, kampanye pemberantasan buta huruf, dan pelatihan sumber daya manusia sebagai cara untuk menolong orang agar dapat membantu diri mereka sendiri dan berpartisipasi dalam perolehan manfaat dari pertumbuhan ekonomi.

Beberapa pihak berargumentasi bahwa proyek dan kebijakan pinjaman Bank Dunia mamasukkan kondisi kemiskinan, pada cara yang sama mereka seharusnya juga memasukkan “persyaratan kesenjangan”. Dampak pembagian kembali proyek-proyek dan kebijakan-kebijakan-dan terutama inisiatif swastanisasi-agar seyogianya dirancang dan diterima sebagai masalah rutin. Data dan tabel yang tercantum dalam Laporan Pembangunan Dunia tahunan dari Bank Dunia seharusnya diperluas agar meliputi hal-hal yang berhubungan dengan ukuran keadilan bagi setiap negara.

MENDORONG KESEPAKATAN TENTANG PROGRAM SAP DAN PINJAMAN
Seperti dijelaskan di atas pada bagian penyesuaian struktural dan utang, Bank Dunia dan para pengkritiknya bersilangan pendapat dalam analisis mereka terhadap hubungan antara penyesuaian struktural dan kemiskinan, dan dalam kesimpulan mereka tentang apa yang harus dilakukan oleh Bank Dunia untuk mengatasi persoalan pinjaman tersebut. Perkembangan saat ini mengindikasikan bahwa suatu dialog konstruktif di antara pandangan-pandangan yang makin bertemu edang gencar dilakukan. Bank Dunia telah menunjukkan keterbukaannya untuk mengubah kriteria yang digunakan untuk mengevaluasi reformasi pasar bebas dengan memasukkan sasaran pengurangan kemiskinan. Program penyesuaian secara meningkat memasukkan langkah-langkah mengurangi kemiskinan, dan adanya komitmen untuk memberikan suatu penekanan yang lebih besar dalam tahapan implementasinya.

Pada saat yang sama LSM mulai mengesampingkan suatu penolakan menyeluruh terhadap penyesuaian struktural, dan mengambil pendekatan lebih dalam terhadap dampak dari unsur-unsur paket penyesuaian struktural untuk menilai unsur mana yang bermanfaat bagi masyarakat miskin dengan persyaratan-persyaratan tertentu. Mereka mempertanyakan, sebagai contoh, dalam keadaan seperti apa usaha-usaha swastanisasi memberikan keuntungan kepada masyarakat luas dan tidak cuma kepada beberapa gelintir saja? Bagaimanapun mereka senantiasa menekankan bahwa dana penanaman modal sosial dan program kompensasi lainnya yang dirancang untuk mengurangi kemiskinan adalah cuma sesuatu seperti bantuan obat ringan, yang tidak mengobati sumber-sumber struktural penyakitnya.

Berkaitan dengan soal hutang, Bank Dunia telah memulai menunjukkan beberapa niatnya untuk mempertimbangkan kemungkinan pengurangan hutang dengan menggunakan sumber-sumber multilateral. Pada 25 Juli 1995 satu dokumen internal diserahkan kepada Financial Times, suatu garis besar program Bank Dunia untuk mengurangi kewajiban beban multilateral-sebagai contoh utang-pinjaman yang berasal dari Bank Dunia, IMF, dan Bank Pembangunan Regional-pada negara-negara miskin yang memiliki pinjaman yang besar. Proposal untuk Fasilitas Pengurangan Utang Multilateral dipresentasikan kepada anggota Bank Dunia dan IMF pada rapat Komite Pembangunan, bulan April 1996.

Dialog lebih lanjut terhadap dua masalah tersebut tetap dibutuhkan untuk mencapai kesepakatan di antara negara pemegang saham dan negara-negara peminjam serta unsur-unsur asyarakat sipil dalam hal merancang ulang penyesuaian struktural dan tanggapan Bank Dunia untuk memecahkan masalah hutang ini.

PENGUKURAN
Definisi dan ukuran kemiskinan menimbulkan soal lain bagi Bank Dunia. Di negara berkembang, tidak selalu tersedia suatu data statistik tentang kemiskinan, dan data yang ada tidak bisa dipercaya: di Meksiko, saat ini diungkapkan bahwa pola administrasi yang dilakukan oleh pemerintahan Salinas secara sistematis memutarbalikkan data statistik untuk menyembunyikan data kemiskinan. Kelemahan ini makin diperberat oleh kenyataan bahwa saat data statistik tersedia, indikator konvensional yang dipakai tidak cocok pada konteks sosial yang berlainan. Perubahan ke arah penggunaan Indeks Pertumbuhan Manusia (HDI), dan secara khusus Indeks Pertumbuhan dihubungkan dengan Gender (GDI), yang memasukkan biaya dan manfaat non-pasar, akan sangat membantu dalam mengukur kemiskinan.

Contoh yang paling mencolok pada kelemahan konvensional adalah penggunaan pendapatan per kapita gross domestic product (GDP) untuk mengidentifikasi kemiskinan. Brazil dan Meksiko umumnya dianggap lebih baik dari hampir semua negara di Afrika, dan namun di beberapa daerah di negara-negara tersebut (Brazil dan Meksiko) memiliki tingkat pendapatan rata-rata sama dengan negara-negara kawasan Sub-Sahara Afrika. Yang lain menunjukkan bahwa GDP, tidak seperti GNP (Hasil Pendapatan Nasional), membuat negara-negara berkembang kelihatan bagus dipermukaan, dengan memasukkan pendapatan investasi asing yang dikembalikan kepada negara-negara lain.

Kadang-kadang sosok ekonomi makro dapat menyembunyikan realitas kemiskinan ketika indikator keuangan diprioritaskan di atas indikator-indikator lain yang menjelaskan bagaimana ekonomi produktif dan alat-alat rumah tangga meningkat. Sebagai contoh, sepanjang pemerintahan Salinas di Meksiko (1988-1994), bursa efek mengalami masa kejayaannya, kondisi keuangan pemerintahn menunjukkan surplus, investasi asing berlimpah, dan nilai tukar stabil. Akan tetapi, model ekonomi ini telah mendorong pencabutan kapasitas produktif domestik, kemiskinan yang lebih besar, dan n kesenjangan sosial yang makin tajam.

Analisis “The Welfare of the Nations” dilakukan oleh Wakil Presiden Bank Dunia untuk bidang pembangunan untuk keberlanjutan lingkungan-Environmentally Sustainable Development-adalah langkah awal ke arah kerangka konseptuasl untuk mengukur pembangunan berkelanjutan secara lebih akurat. Kerangka itu memasukkan faktor manusia, alam dan sosial ke dalam ukuran kekayaan, tetapi tidak berhubungan dengan soal-soal distribusi pendapatan.

Perkembangan positif yang lain adalah bahwa Bank Dunia meningkatkan penggunaan indikator tingkat pendapatan suatu negara dan indikator-indikator sosialnya. Di antaranya adalah tingkat upah tenaga kurang terampil (perkotaan dan pedesaan), dan nilai tukar komoditi desa; dan pada indikator sosial dimasukkan tingkat masuk sekolah, tingkat kematian balita, imunisasi, kekurangan gizi anak, pengeluaran pemerintah ataskebutuhan sosial dasar, harapan hidup laki-laki dan perempuan, tingkat kesuburan dan tingkat kematian ibu.

Halaman: 1 2 3 4 5 6 7

Jika Anda menyukai artikel di situs ini, silahkan input Email Anda pada Form yang disediakan, lalu Klik Untuk Berlangganan. Dengan begitu, Anda akan berlangganan setiap update artikel terbaru UPC gratis via FeedBurner ke Email Anda.

Artikel Lainnya